Takut

Jika kau bertanya apa ketakutan ku, maka aku akan menjawab banyak sekali.

Mungkin dari semuanya aku akan mengatakan bahwa aku takut menjalani hidup ini. Bahkan, untuk sekedar bangun di pagi hari saja sangat sulit untukku. Barangkali itu alasannya aku lebih aktif di malam hari. Karena aku takut untuk menghadapi hari esok.

Oleh karena itu, aku berusaha menghibur, atau setidaknya mengalihkan pikiranku pada hal lain. Mendengarkan musik, melukis, membaca buku dan menulis. Hei, kau tahu, menulis dapat menjadi suatu distraksi yang sangat ampuh, lho! Setidaknya itu menurutku. Karena, dengan menulis, aku dapat dengan mudah mencurahkan hati tanpa takut diganggu oleh apapun.

Selama dua puluh empat tahun hidupku, aku menyadari bahwa aku semakin dewasa. Semakin dewasa berarti aku harus mampu bertanggung jawab akan segala hal. Tak lupa wawasan yang semakin luas, pikiran yang semakin bijaksana, serta tutur kata dan perilaku yang sopan dan sesuai dengan tata krama.

Hei, apa aku barus saja menulis syarat untuk menjadi orang dewasa? Entahlah. Satu hal yang aku tahu, ketakutan akan selalu ada di dalam diriku, dan mungkin di dalam diri semua orang. Terlebih, di saat pendemi seperti ini.

Takut akan terkena musibah, bencana, penyakit ataupun ajal. Namun, satu hal yang aku tahu, selama kita masih dapat berbicara kepada-Nya, dapat berpegang teguh pada prinsip hidup kita, selama kita masih berada di lingkungan yang selalu mendukung kita, maka harapan itu akan selalu ada.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *