Sweater Weather

Malam Natal 2018

Kau melihatku yang termenung menatapmu setelah kau melingkarkan kalung ini padaku. Aku sendiri tidak tahu apa yang seharusnya ada di pikiranku setiap menatap kalung yang melingkar di leherku ini. Apakah aku harus senang? Sedih? Bahagia? Kecewa?

Ah, ya. Aku seharusnya bahagia. Aku harus menjadi bahagia walaupun aku tahu kau akan meninggalkanku setelah semua kebahagiaan ini terjadi.

“Selamat Natal.” Ucapmu tersenyum kepadaku.

Hal yang paling kuingat saat itu adalah pohon natal yang berpendar yang didominasi warna merah yang sangat kontras dengan pohon natal yang berwarna hijau.

Kau seharusnya tahu aku masih mengingat itu semua.

Aku balas menyunggingkan senyumku kepadamu. Ku akui aku ini memang orang yang aneh. Bahkan setiap orang yang kutemui berkata demikian padaku. Mereka selalu bilang aku anak yang aneh, unik. Lain daripada yang lain.

Sampai sekarangpun aku sangat takjub mengapa kau menyukaiku yang aneh ini.

Hei. Kau tahu? Aku menginginkanmu pergi dari hidupku. Dan ketika kau benar-benar pergi dari hidupku, aku membencimu yang berani-beraninya pergi dari hidupku.

Asal kau tahu, kalung pemberianmu masih kusimpan. Lukisanmu, juga suratmu. Semua itu masih kusimpan.

Aku ingin mempercayai pikiranku yang berkata bahwa kau menikahi dia hanya karena kau kecewa aku telah bersama dengannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *