Si Sopan Pembunuh Mahasiswi: Ed Kemper

Edmund Emil Kemper III, lahir di California, Amerika Serikat pada 18 Desember 1948. Adalah seorang pemuda yang sangat cerdas. Ia lahir dari pasangan Edmund Emil Kemper II yang adalah seorang veteran perang dunia II, dan Clarnell Elizabeth Kemper.

Pernikahan kedua orang tua Ed tidak bahagia. Ibu Ed seringkali mengeluhkan tentang pekerjaan Ayah Ed yang bekerja serabutan selepas perang. Selain sebagai tukang listrik, Ayah Ed juga bekerja sebagai penguji coba bom nuklir di Pasifik. Ayah Ed pernah berkata bahwa “misi bunuh diri di masa perang dan uji coba bom atom tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tinggal bersama Clarnell”.

Barangkali, hal inilah yang membuat mental Ed terganggu. Ketika mendapati kenyataan bahwa kedua orangtuanya akhirnya berpisah dan Ed harus ikut dengan ibunya pindah ke Montana, sementara ia merasa sangat dekat dengan ayahnya dan harus berpisah dengannya.

Image for post
Ibu Ed, Clarnell

Kurangnya kasih sayang, perceraian orangtuanya serta hubungan yang tidak sehat antara ia dan ibunya menjadikan Ed seorang yang memiliki banyak fantasi gelap yang berhubungan dengan kematian dan seksualitas.

Ia mematahkan kepala dan tangan dari boneka saudara perempuannya, membuntuti gurunya sambil membawa bayonet ayahnya, dan apa kalian tahu permainan favoritnya? Ya, kamar gas dan kursi listrik. Ed akan meminta adik perempuannya mengikatnya ke kursi, berpura-pura menekan tombol dan kemudian ia akan menyentak dan menggeliat dan berpura-pura sedang dieksekusi.

Tak hanya itu, ia juga menunjukkan keinginan untuk melukai binatang sejak usia sangat dini. Pada usia 10 tahun, Ia pernah mengubur kucing peliharaan keluarganya hidup-hidup. Begitu sudah mati, ia menggalinya, memotong kepalanya dan menancapkannya dengan paku.

Pada usia 13 tahun, ia membunuh kucing adik perempuannya, Allyn karena ia cemburu karena sepertinya kucing itu lebih menyukai adik perempuannya dibandingkan dengan dirinya. Ia lalu menyimpan potongan-potongan kucing di lemari pakaiannya sampai akhirnya ditemukan oleh ibunya.

Image for post
Ed dengan adiknya, Allyn

Ed tumbuh semakin dewasa, termasuk secara fisik. Memasuki usia 15 tahun, ia sudah memiliki tinggi 180 cm dan hal ini sangat mengintimidasi ibunya. Sosoknya yang tinggi besar membuat ibunya takut Ed akan membahayakan saudara perempuannya. Ibunya secara teratur mencaci maki dan menghinanya, memberi tahu bocah itu bahwa tidak akan ada wanita yang mencintainya dan kerap kali mengatakan bahwa Ed adalah orang aneh.

Ed Kemper was 6"9 and weighed more than 21 stone
Ed dibandingkan dengan orang sekelilingnya

Tak hanya ditekan secara verbal, Ibunya membuat Ed harus tidur di ruangan bawah tanah, di ruangan yang tak berjendela, gelap, basah, dan dingin dan mengunci pintunya untuk mengurung Ed di dalam. Suara-suara decitan tikus kerap kali ia dengar dii ruangannya dan ia merasa bahwa saat-saat itu adalah saat terkelam dalam hidupnya.

Perlakuan-perlakuan yang diterima dari ibunya tersebut membuat Ed melarikan diri dari rumah ibunya dan memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di California. Ia merasa bahwa tinggal bersama ayahnya yang sangat ia idolakan akan jauh lebih baik dibandingkan dengan ibunya.

Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa ayahnya telah tinggal bersama dengan keluarga barunya. Perawakan Ed yang tinggi besar barangkali juga menakutkan bagi ibu dan adik tirinya. Ditambah lagi, perlakuan Ed yang tidak sopan pada mereka semakin menambah keinginan mereka untuk mengusir Ed dari rumah itu.

Suatu hari ketika ibu tirinya selesai mandi, ia terkejut karena mendapati Ed berdiri di depan pintu. Ibu tiri Ed meminta Ed untuk minggir, tapi Ed hanya diam saja menatap dada ibu tirinya. Ibu tirinya berhasil melewati Ed, tapi Ed mengikuti ibu tirinya sampai ke kamar. Ed kemudian pergi ketika Ibu tiri Ed berteriak. Ibu tirinya tidak merasa aman dengan kehadiran Ed, ia meminta ayah Ed untuk mengusir Ed atau ia yang akan keluar dari rumah itu.

Akhirnya, dengan perasaan bersalah ayah Ed mengalah dan mengusir Ed dari rumah mereka, dan menyarankan Ed untuk tinggal di rumah kakek dan neneknya di peternakan. Barangkali ayahnya sudah memahami bahwa perlakuan ibunyalah yang menjadikan Ed menjadi pribadi yang seperti itu.

Ed sangat benci tinggal bersama kakek dan neneknya, namun sang kakek berusaha untuk menjalin hubungan dengan Ed. Sang kakek mengajak Ed untuk berburu dan bahkan membelikan Ed senapannya sendiri. Sementara itu Ed sangat tidak menyukai neneknya. Ia sering beradu mulut dengan neneknya dan kerap kali mencuri uang neneknya.

Pembunuhan Pertama

Sampai pada tanggal 27 Agustus 1964, ketika Ed beradu mulut seperti biasa dengan sang nenek di dapur. Ed pergi mengambil senapannya di kamar dan kembali ke dapur. Sang nenek menyuruh Ed untuk meletakkan senapannya, namun Ed malah menarik pelatuknya dan menembak kepala sang nenek. Ed tidak berhenti disitu, ia kemudian menikam tubuh sang nenek bertubi-tubi, kemudian ia membawa mayat neneknya ke kamar, meletakkan mayat neneknya diatas kasur dan tersenyum. Berfikir bahwa neneknya pasti akan senang karena ia tidak menembak burung seperti yang dilarang nenek.

Ed mendengar mobil sang kakek yang mendekat, Ia kemudian berjalan keluar rumah dengan senapannya dan mendapati kakeknya yang baru kembali dari berbelanja. Ia menembak sang kakek di kepala.

Image for post
Kakek dan Nenek Ed, Edmund Emil Kemper dan Maude Matilda Hughey Kemper

Tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia memutuskan untuk menelpon ibunya, yang mendesaknya untuk menghubungi polisi setempat. Kemper kemudian memanggil polisi dan menunggu mereka untuk menahannya.Tak lama kemudian, polisi datang dan terkejut melihat Ed yang sangat tenang dan sangat kooperatif dalam penahanannya. Ed dibawa ke kantor polisi.

Ketika ditanya apa alasan Ed melakukan pembunuhan itu, Ia mengatakan bahwa dia “hanya ingin mengetahui bagaimana rasanya membunuh Nenek sendiri,” dan bahwa dia membunuh kakeknya sehingga sang kakek tidak perlu mengetahui bahwa istrinya sudah mati.

Ed dipenjarakan dan menunggu tanggal sidangnya. Pihak kepolisian juga menyediakan seorang psikiater untuk menganalisa kondisi mental Ed. Mereka terkejut akan sikap Ed yang tenang dan kooperatif. Ed menjelaskan apa saja yang telah ia lakukan dengan sangat tenang sehingga membuat psikiater bertanya-tanya tidak mungkin seorang anak berumur 15 tahun dapat membunuh kakek dan neneknya secara brutal.

Ed didiagnosa dengan paranoid skizofrenia (suatu jenis skizofrenia yang paling umum terjadi. Skizofrenia sendiri merupakan penyakit gangguan otak yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan dalam berpikir, serta kelainan dalam merasakan atau mempersepsikan lingkungan sekitarnya. Prinsip singkatnya, penderita skizofrenia memiliki kesulitan dalam menyesuaikan pikirannya dengan realita yang ada).

Psikiater yang disediakan oleh pengadilan berasumsi kalau kebencian Ed pada ibu dan neneknya adalah bagian dari paranoid skizofrenia yang diderita Ed. Semua bukti yang ada cukup untuk menyatakan kalau Ed memiliki gangguan jiwa, Ed dinyatakan tidak bersalah atas dasar ketidak warasan dan dijatuhi keputusan untuk segera mungkin menjadi pasien di rumah sakit jiwa.

Rumah Sakit Jiwa

Perilaku Ed selama di rumah sakit membuat para dokter bertanya-tanya dan merasa ada sesuatu dibalik sang remaja pembunuh ini. Mereka kemudian mengadakan tes IQ untuk Ed dan terkejut setelah hasil tes IQ Ed keluar. Ed mencapai skor IQ 136 (rata-rata IQ seseorang adalah 100). Hanya 2% dari populasi dunia saat itu yang memiliki IQ di atas 130.

Ed adalah seorang yang jenius.

Setelah beberapa bulan, IQ Ed kembali diuji. Kali ini hasilnya bertambah menjadi 145. (0,5% dari populasi dunia). Ini semakin membuat para dokter kebingungan, karena pasalnya penderita paranoid skizofrenia normalnya tidak mampu mengorganisir pola pikir mereka untuk tes apapun, apalagi tes IQ.

Para dokter yang ada mulai fokus pada Ed. Ed sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menderita skizofrenia seperti delusi, halusinasi, berbicara yang tidak jelas dll. Dokter disana kemudian berkesimpulan kalau psikiater sebelumnya salah mendiagnosis Ed. Setelah beberapa pertimbangan dan pemeriksaan, Ed didiagnosa ulang dan dinyatakan memiliki “Gangguan kepribadian pasif-agresif” (personality trait disturbance, passive-aggressive type.) Gangguan kepribadian pasif agresif secara singkatnya adalah ketika seseorang disuruh melakukan sesuatu yang tidak ia suka atau disuruh oleh orang yang tidak ia suka, ia akan setuju namun tidak akan melakukannya sama sekali. Lalu ketika dikonfrontasi, ia akan memiliki banyak alasan. Selain itu penderita gangguan ini senang sekali mengeluh dan menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitar atas semua yang terjadi pada diri mereka.

Diagnosa baru ini lebih baik daripada diagnosa paranoid skizofrenia. Kriminal dengan gangguan skizofrenia akan lebih susah diobati, tapi penderita gangguan kepribadian pasif-agresif dapat diatasi secara perlahan. Para psikiater optimis kalau mereka dapat menyembuhkan Ed. Ed menyadari hal ini dan berpikir kalau ia akan dibebaskan kalau ia menunjukkan adanya progress kemajuan.

Ed setuju untuk menjalani pengobatan dan sangat kooperatif setiap saat. Ketika dokter berpikir kalau mereka membantu Ed untuk menyembuhkan dan menghilangkan pikiran-pikiran kasar, faktanya Ed malah belajar untuk menyembunyikan pikiran dan niat jahatnya, tapi Ed terus saja memiliki fantasi tentang kekerasan seksual dan pembunuhan.

Ed memanipulasi orang-orang di sekitarnya, ia membuat dirinya terlihat sebagai tahanan yang baik dan patuh (model prisoner). Ed kemudian diberikan pekerjaan untuk mengisi waktunya, ia ditugaskan untuk mengantar berkas-berkas interview dan mengorganisirnya sebelum mengantar ke ruangan di seluruh rumah sakit. Ed mengaku kalau ia tidak seharusnya membaca isi berkas tersebut, tapi ia memanfaatkan pekerjaan yang diberikan padanya untuk mencurangi sistem yang ada. Ed mulai membaca berkas yang ada dan menghafalnya satu per satu. Ia akan membaca pertanyaan yang diberikan psikiater kemudian ia juga memeriksa nota psikiater itu untuk mengetahui jawaban apa yang disukai dokter dan jawaban mana yang tidak.

Ed tidak menggunakan kepintarannya untuk memahami dirinya sendiri, tapi malah ia gunakan untuk memahami lingkup psikologi. Karena perilaku Ed yang semakin memuaskan, ia diijinkan untuk menjalankan tesnya sendiri.

Bebas

Ketika Ed berusia 20 tahun, para dokter yang menanganinya percaya kalau Ed telah berubah. Namun, ketika ia dinyatakan bebas, ia tidak dapat melakukan apapun karena selama ini ia menjadi seorang tahanan. Ayah dan saudaranya pun tidak ingin menerima Ed di tempat mereka, ibunya telah menikah lagi untuk yang ketiga kalinya.

Setelah Ed dibebaskan dan kembali tinggal bersama ibunya, selama berbulan-bulan ia dan ibunya menjalin hubungan yang sehat dan tidak ada konflik apapun. Ed kemudian juga terdaftar dalam community college di areanya. Namun karena ia ditahan selama 6 tahun tanpa mengetahui seperti apa dunia luar, ia terkejut atas perubahan yang menurutnya cukup signifikan. Ed memutuskan untuk menjadi seorang polisi karena ia ingin merubah kekacauan yang ada disekitarnya, ia ingin memulai kehidupan yang baru.

Ed mendaftar ke sekolah kepolisian, namun ia ditolak. Ed beranggapan kalau ia ditolak karena catatan kejahatan miliknya… Akan tetapi alasan Ed ditolak adalah karena tingginya. Tinggi Ed adalah 6″9′ (205cm) sedangkan tinggi maksimum di akademi kepolisian adalah 6″5′ (195cm). Ed sejak dulu selalu diejek karena postur badannya yang tinggi besar dan karena kejadian ini, ia semakin tidak percaya diri dan Ed sangat tersakiti dengan kejadian ini

Ia lalu mendapat pekerjaan konstruksi dan kontrol jalanan di ‘California Highway Department’. Ed kemudian berteman dekat dengan beberapa anggota kepolisian karena ia sering menghabiskan waktu di sebuah bar yang kebanyakan pengunjungnya adalah polisi. Ed dikenal banyak sebagai seorang yang ramah. Para polisi sangat senang akan kehadiran Ed, mereka bahkan menamai Ed “Big Ed”. Ed sering bertanya soal bagaimana pekerjaan mereka, beberapa polisi menceritakan soal pekerjaan mereka. Bercanda gurau layaknya teman, namun yang mereka tidak ketahui adalah Ed akan menggunakan cerita mereka untuk menghindari tertangkap oleh polisi.

Ia kemudian mendapat persetujuan dari petugas pembebasan bersyarat untuk tinggal sendiri. Ia pergi dari rumah ibunya dan tinggal disebuah apartemen. Ed merasakan kebebasan yang ia tidak pernah rasakan dan Ed memiliki banyak waktu luang jika ia tidak bekerja. Ia berusaha untuk mencari pacar. Namun itu tidaklah mudah bagi Ed. Alasan besarnya adalah Ed yang tidak percaya diri, masalah lainnya adalah pendapat Ed tentang wanita.

“Ketika aku melihat seorang wanita cantik berjalan sendiri, aku memiliki dua pemikiran. Aku ingin sekali mendekati wanita itu dengan pendekatan baik-baik dan menjalin romansa dengannya. Namun di sisi lain, aku bertanya-tanya bagaimana kelihatannya jika kepalanya tertancap di sebuah tombak?” – Ed Kemper.

Kekasih Pertama

Tidak lama kemudian, Ed menjalin hubungan romansa dengan seorang siswi berusia 16 tahun. Ia adalah tipe yang dicari oleh Ed. Pirang, bertubuh langsing, muda, dan kekanakan. Karena seseorang yang kekanakkan menerima Ed tanpa bertanya banyak soal masa lalu Ed. Ed mencintai gadis ini, namun mereka tidak pernah berhubungan seks, karena sang gadis adalah seorang religius. Ed menyayangi gadis ini sampai pada akhirnya mereka bertunangan.

Namun sang ibu, Clarnell, merasa jijik dengan Ed. Clarnell menegaskan bahwa Ed bertunangan dengan gadis yang sangat muda dibanding dengan usia Ed (Ed pada saat itu berusia 21 tahun). Clarnell mulai mencaci maki Ed, mengejeknya, dan memaksa Ed untuk menyudahi hubungannya dan meninggalkan gadis itu. Clarnell bahkan mendatangi rumah Ed hanya untuk berteriak memaki-maki Ed.

Tidak tahan dengan itu semua, Ed memutuskan pertunangannya dan ia kemudian meminta sang ibu untuk mencarikannya gadis yang sesuai dengan usia Ed. Clarnell malah tertawa mengejek dan menolak permintaan Ed. Dengan alasan Ed sama seperti ayahnya dan Ed tidak pantas untuk bertemu dengan gadis baik manapun. Saat itu lah batasan antara fantasi dan dunia nyata mulai goyah.

Ed terluka dalam kecelakaan sepeda motor dan dengan penyelesaian 15.000 dolar yang ia terima, Ed lalu membeli mobil.

Pembunuhan Selanjutnya

Ed memulai aksinya saat ia berusia 22 tahun. Ia mulai berkendara berkeliling untuk memberikan tumpangan pada wanita. Ed mengaku awalnya ia melakukan ini hanya untuk membantunya berbicara pada wanita. Tapi sayangnya, setelah sekitar 150 perjalanan dan tumpangan diberikan dengan aman, Ed belajar untuk memanipulasi dan meraih kepercayaan para wanita itu, membuat mereka masuk ke dalam mobil, berpura-pura salah mengambil jalan dan pada akhirnya membunuh mereka dengan pisau, borgol, pita plastik, dan selimut yang sudah disiapkan di mobilnya.

Mary Ann Pesce dan Anita Luchessa

Image for post
Mary Ann Pesce dan Anita Luchessa

Korban pertamanya adalah Mary Ann Pesce dan Anita Luchessa mahasiswi yang pada mulanya ingin menuju Stanford University pada 7 Mei 1972.

Satu jam dalam perjalanan Ed membelokkan mobilnya ke hutan terpencil dan memborgol mereka di bagasinya, menikam dan mencekik kedua gadis itu dan memasukkan mereka kembali ke mobilnya.

Kemper sempat dihentikan oleh polisi dalam perjalanan pulang karena lampu belakangnya rusak – tetapi petugas itu tidak melihat mayat-mayat di mobilnya dan tidak mencurigai Ed.

Kedua gadis itu berakhir di atas ranjang Ed dengan kondisi tubuh yang terpotong-potong sebelum Ed memperkosa tubuh mereka serta memotretnya. Setelah itu, ia menyalurkan nafsunya pada kepala mereka yang terpenggal sebelum menaruh potongan-potongan tubuhnya ke kantung plastik dan membuangnya.

Mary Ann adalah satu-satunya wanita yang ia sesali telah ia bunuh. Mary Ann adalah sebuah pengingat untuk Ed, pengingat kalau semisalnya Ed memilih jalan normal, ia dapat bertemu dengan Mary Ann dalam situasi yang lain, atau bahkan bertemu dan menjalin hubungan dengan wanita lain layaknya manusia normal yang lain.

Ed juga mengaku kalau ia mengetahui alamat rumah Mary Ann dan ia sering berkendara bolak-balik depan rumah Mary Ann. Ed terus menerus berandai-andai, “kalau saja aku tumbuh di lingkup keluarga normal”, “kalau saja aku tumbuh di kota lain dan sekolah di sekolah lain”, “andai saja aku bertemu dengan Mary Ann lebih awal…” Namun semua itu hanya sekedar angan-angan… Semuanya sudah terlambat, Ed telah membunuh Mary Ann dan menurut Ed, untuk menghilangkan bayang-bayang Mary Ann, ia harus mencari korban baru.

Dua bulan setelah pembunuhan itu dan mayat ditemukan, Polisi tidak dapat mencari tau siapa tersangka pembunuhan tersebut. Ed sangat pandai menyembunyikan jejaknya dan Ed berhasil menahan hasrat untuk membunuh selama 4 bulan. Saat itu Ed masih belum memiliki pekerjaan dan simpanannya mulai menipis, ia semakin dekat dengan kemungkinan untuk kembali tinggal dengan ibunya. Disinilah hasrat membunuh Ed mulai muncul kembali dan ia menemukan korban terbarunya.

Aiko Koo

Image result for ed kemper victim
Aiko Koo

14 September 1972, Ed mendapati seorang gadis yang hendak menumpang. Gadis berusia 15 tahun yang bernama Aiko Koo. Aiko terlambat menaiki bus untuk latihan menarinya dan ia tidak tau bagaimana cara lain menuju tempat latihannya. Ed menawarkan tumpangan, Aiko sangat berterima kasih.

Seperti biasa, mereka sedikit berbincang sebelum akhirnya Ed membelokkan mobilnya ke dalam hitan terpencil dan mencekik Aiko sampai Aiko tidak sadarkan diri kemudian memperkosanya. Setelah ia selesai, ia melanjutkan mencekik Aiko hingga tewas. Ia kemudian menaruh Aiko ke dalam bagasinya. Ed mengaku ia sangat mengagumi mayat Aiko seperti seorang pemancing yang mengagumi hasil tangkapannya.

Ed membawa mayat Aiko ke rumahnya kemudian ia mutilasi. Setelah itu, Ed melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada 2 mayat korban sebelumnya. Ia berhubungan seksual dengan mayat Aiko. Kemudian membuang potongan-potongan mayat Aiko ke beberapa daerah sepi terpencil.

Cindy Schall

Image for post
Cindy Schall

Sekitar bulan Desember tahun 1972, karena masalah ekonomi, Ed terpaksa kembali tinggal bersama ibunya. Saat itu juga Ed membeli sebuah pistol berkaliber 22 dan mulai berkeliling untuk mencari korban selanjutnya.

7 Januari 1973, Ed menemukan seorang gadis cantik, berparas kecil, yang adalah tipe wanita Ed. Ed menawarkan tumpangan pada gadis itu yang bernama Cindy Schall. Ia melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia akan bercakap dengan korbannya sambil berkendara berkeliling -memutar untuk mencari tempat yang pas. Setelah ia menemukan tempat yang cocok, ia mengeluarkan pistol miliknya dan menembak Cindy tepat di kepala, Cindy meninggal di tempat.

Ia kemudian menaruh mayat Cindy ke bagasi dan berkendara pulang ke rumah. Berbeda dengan kedua korban sebelumnya, kali ini Ia memindahkan mayat Cindy ke kamarnya setelah ia yakin bahwa ibunya sudah tidur, dan menaruh mayat Cindy dalam lemari.

Ed menunggu sampai ibunya pergi kerja sebelum mengeluarkan mayat Cindy dan melampiaskan nafsunya dengan mayat Cindy. Ia memenggal kepala dan memutilasi tubuh Cindy menjadi beberapa bagian. Ia kemudian membuang potongan tubuh Cindy ke lautan pasifik namun ia tetap menyimpan kepala Cindy untuk beberapa hari.

Ed berhubungan seks dengan kepala Cindy sebelum ia memutuskan untuk mengubur kepala Cindy di halaman belakang rumah tepat di bawah jendela kamar ibunya. Kepala Cindy dihadapkannya ke atas, seolah-olah Cindy sedang menghadap ibunya. Ibunya selalu ingin ‘diperhatikan’ oleh orang-orang.

Image for post
Rumah Ibu Ed

Saat itu, berita tentang pembunuhan yang menargetkan mahasiswi mulai santer terdengar. Ciri-cirinya mulai terlihat: Gadis penumpang, mayatnya termutilasi dan dibuang dengan cara disebar. Polisi setempat mulai menjuluki pembunuh tersebut dengan julukan “The Co-Ed Killer” dan “The Co-Ed Butcher”, karena semua korbannya adalah para siswi/mahasiswi (Co-Ed dari singkatan Co-Education alias sekolah publik campuran: adanya siswa laki-laki dan perempuan).

Uniknya, Ed yang tidak merasa terancam dengan hal ini tetap memberikan tumpangan. Beberapa dari siswi yang menumpang ada yang bertanya pada Ed, kira-kira siapa pembunuh yang sedang ramai dibicarakan. Ed mengaku kalau wanita yang ia beri tumpangan mulai membahas soal “The Co-Ed Killer”, Ed tidak akan membunuh wanita itu. Mungkin ini ada sangkutannya dengan alam bawah sadar Ed yang merasa malu dan hina akan perbuatannya itu.

Rosalind Thorpe dan Allison Liu

Image for post
Rosalind Thorpe dan Allison Liu

Setelah bertengkar dengan ibunya, Ed kemudian memutuskan untuk menyalurkan amarahnya dengan membunuh. Ed mengendarai mobilnya menuju kampus UCSC, di sanalah ia memberi tumpangan pada Rosalind Thorpe dan Allison Liu, dua mahasiswi kampus UCSC.

Ed sangat geram dengan ibunya saat itu, ia tidak dapat menunggu lebih lama untuk membunuh. Tanpa menghentikan mobilnya, ia menembak Rosalind dan Allison. Rosalind tewas di tempat karena Ed menembaknya dari jarak dekat, sedangkan Allison masih bernapas meskipun sekarat. Ed menghentikan mobil kemudian menembak Allison sekali lagi dan membunuhnya. Dia kemudian pulang ke rumah dengan kedua mayat di bagasi mobilnya.

Ia merasa hebat dan tidak terlihat, ia memenggal kepala Rosalind dan Allison di luar rumah tepat di tempat parkir. Ia beranggapan kalau saja saat itu ada tetangga yang lewat, atau ibunya melihat keluar jendela, ia pasti tertangkap saat itu juga. Ia meninggalkan kedua mayat dalam mobilnya dan menunggu sampai esok pagi.

Esok pagi setelah ibunya pergi kerja, ia membawa potongan kepala dan tubuh Rosalind dan Allison. Ia mengeluarkan peluru yang ada untuk mencegah identifikasi peluru dan kemudian ia hancurkan peluru itu sebelum ia berhubungan seks dengan mayat Rosalind dan Allison. Ia memutilasi kedua mayat itu dan membuang potongannya di sekitar pedesaan Santa Cruz. Satu minggu kemudian, potongan mayat ditemukan dan lagi, tidak ada berita tentang identitas pembunuh.

Ed menjelaskan kepada polisi mengapa ia suka memisahkan kepala dari tubuhnya. Menurutnya, “kepala itu seperti piala. Kau tahu, semua indra ada di kepala. Otak, mata, hidung, mulut. Aku ingat mereka pernah berkata bahwa kau dapat memotong seluruh anggota tubuhmu dan kau masih dapat hidup. namun, jika kau memotong kepala, maka tubuh akan mati. Tubuh bukanlah apa-apa tanpa kepala. namun menurutku itu salah. Banyak yang terdapat pada tubuh wanita meskipun kepalanya sudah terpisah.”

Petaka Setelah Pesta

Pada tanggal 20 April 1973, ibunya yang baru saja pulang dari sebuah pesta, membangunkan Ed yang saat itu sudah tertidur. Ed kemudian bangun dan menghampiri ibunya di kamarnya. Ibunya yang sedang duduk di tempat tidurnya dan membaca buku, melihat Ed memasuki kamarnya dan berkata kepada Ed, “Apa kau akan berdiri semalaman disitu atau barangkali kau ingin duduk bersamaku dan berbicara semalaman?” Ed menjawab, “Tidak, selamat malam!”, sebelum ia kembali ke kamarnya sendiri.

Ia kemudian menunggu sampai ibunya tertidur dan diam-diam kembali ke kamarnya, memukulnya dengan palu kemudian menggorok leher ibunya dengan pisau. Dia kemudian memenggalnya dan menggunakan kepala sebagai papan panah. Ed menyatakan bahwa dia meletakkan kepala ibunya di atas rak dan berteriak kepadanya selama satu jam sambil melemparkan anak panah padanya, sebelum akhirnya membanting wajahnya dan memotong lidah dan laringnya dan memasukkannya ke tempat pembuangan sampah (garbage disposal, adalah perangkat, biasanya bertenaga listrik, dipasang di bawah wastafel dapur antara saluran pembuangan dan perangkap. Unit pembuangan merobek-robek limbah makanan menjadi potongan-potongan yang cukup kecil — umumnya kurang dari 2 mm (0,079 in) —untuk melewati pipa ledeng.)

Namun, pembuangan sampah tidak dapat menghancurkan pita suara ibunya karena terlalu keras, dan mengakibatkan jaringan pita suara itu kembali ke wastafel. Ed berkata bahwa itu adalah perlakuan yang tepat. Balasan setimpal karena ia telah mengomel dan menjerit dan berteriak kepadanya selama bertahun-tahun.

Ed lalu menyembunyikan mayat ibunya di lemari dan keluar untuk minum. Saat itulah ia memiliki rencana lain, ia yakin jikalau ibunya tidak masuk kerja, pasti orang-orang akan mencari dan bertanya tentang kepergian Clarnell.

Pesta Kejutan

Akan tetapi, jika ibunya dan sahabat ibunya tidak masuk kerja, rekan Clarnell dan orang-orang lainnya akan beranggapan kalau Clarnell sedang mengambil cuti untuk liburan bersama dengan sahabatnya: Sara Taylor atau akrab disapa Sally. Clarnell dan Sally kebetulan terkadang suka mengambil cuti dadakan. Jadi ketidakhadiran mereka tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan. Sara harus juga menghilang supaya kepergian ibunya tidak menimbulkan kecurigaan.

Image for post
Sahabat Ibu Ed, Sally

Ed kemudian pulang dan menelpon Sara, ia meminta Sara untuk datang ke rumahnya untuk membuat pesta kejutan untuk Sara. Hanya dia, Sally dan Sara. Sara setuju untuk berkunjung. Ketika Sara tiba, Ed membukakan pintu untuk Sara dan saat itu juga Ed langsung mencekik Sara. Ed memenggal kepala Sara. Ia menyembunyikan mayat Clarnell dan Sara dalam lemari dan membersihkan apartemen. Ia kemudian mengambil kunci mobil Sara.

Penyerahan Diri

Setelah berkendara cukup jauh ke bagian timur Colorado, ia lalu khawatir karena tidak mendengar berita apapun mengenai kematian ibunya di radio. Dengan cepat, ia menyerahkan diri.

Ed kemper berusia 24 tahun ketika diadili pada 23 Oktober 1973. Tiga psikiater yang ditunjuk pengadilan mendapati Ed waras secara umum. Salah satu psikiater, Dr. Joel Fort, menyelidiki catatan masa remaja Ed dan diagnosis bahwa ia pernah psikotik. Fort juga mewawancarai Ed, termasuk di bawah serum kejujuran, dan menyampaikan ke pengadilan bahwa Ed terlibat dalam kanibalisme, menuduh bahwa ia memotong daging dari kaki korbannya, kemudian memasak dan memakan potongan daging ini di dalam casserole.

Setelah sidang yang berlangsung lima jam lamanya, Ed dinyatakan bersalah atas semua tuduhan. Ed meminta hukuman mati, meminta “kematian karena penyiksaan.” Namun, dengan moratorium hukuman mati oleh Mahkamah Agung pada waktu itu, ia dijatuhi hukuman seumur hidup.

Ed Kemper adalah salah satu dari sekian banyak pembunuh berantai yang memiliki IQ di atas rata-rata. Tak hanya itu, perawakannya yang tinggi besar membuat ia semakin menonjol di antara yang lain.

Image result for ed kemper
Kiri: Ed Kemper di Serial TV Mindhunter dan Kanan: Ed Kemper asli

Kisah Ed Kemper diadaptasi ke dalm serial Netflix series berjudul Mindhunter. Midhunter sendiri adalah serial yang diadaptasi dari kisah nyata yang menceritakan bagaimana FBI membongkar kejahatan dari pembunuh berantai agar dapat membasmi kejahatan. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara asli, dan salah satu orang yang diwawancara adalah Edmund Kemper, The Co-Ed Killer.

http://edmundkemperstories.com/

https://www.youtube.com/watch?v=tTnEY8y-p7M

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *