Show and Tell (1)

Aku melihat perempuan itu.

Aku memperhatikan matanya yang kelam bak tembaga. Rambutnya yang panjang tergerai. Hidungnya yang bangir serta bibirnya yang ranum. Kacamatanya yang membingkai wajahnya secara sempurna. Serta kulitnya yang seolah bersinar diterpa sinar matahari.

Pria itu mendekat.

Derap langkahnya yang tegap, ia seperti sedang mengendarai kuda yang mengenakan sepatu. Kau tahu bahwa kau akan terjerumus ke dalam hatinya ketika ia akhirnya berdiri tepat di depanmu.

Gadis itu membuka mulutnya.

Sial. Aku tidak bisa berkutik. Suaranya yang semerdu burung kolibri di musim semi. Mimik wajahnya yang kerap berubah seiring kata yang ia ucapkan.

Pria itu tersenyum kepadaku.

Dia benar-benar tersenyum padaku? Ah pasti bukan! Ia pasti hanya berusaha untuk bersikap sopan karena aku mengajaknya berbicara terlebih dulu. Ya. Hanya formalitas belaka. Temanku itu kenapa lama sekali sih!

Aku menyukai perempuan ini.

Aku menyukai cara ia berbicara. Aku menyukai cara ia tertawa. Aku menyukai kacamatanya yang sedikit merosot setiap ia membuka mulutnya. Aku menyukai setiap lekuk wajahnya. Aku menyukainya.

Aku menyukai pria ini.

Aku menyukai mata zamrudnya yang berpendar kehijauan. Aku menyukai rambutnya yang merah menyala diterpa sinar matahari. Janggutnya yang berwarna senada. Giginya yang berbaris rapih. Dan tak lupa, bulu matanya yang selentik burung merak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *