Senja

Sore ini, pukul setengah empat kurang lima menit aku kembali merenggangkan kakiku di kursi goyang. Sepertinya tubuh renta ini memang sudah tidak bisa diajak untuk bekerjasama lagi. Kalian tahu betapa aku berkeinginan untuk mengayuh sepeda onthel-ku mengelilingi komplek perumahan ini sekali lagi. Namun apa daya, kakiku memang sepertinya sudah sangat letih sekali.

Anak-anak itu berlarian kesana kemari tepat di depan pekarangan rumahku. Ah… melihatnya saja sudah membuatku sangat senang. Ingin rasanya aku mengundang mereka untuk masuk ke dalam rumah ini untuk sekedar memberikan mereka kudapan manis. Entahlah, aku takut mereka akan berlari ketakutan hanya dengan karena aku menghampiri mereka.

Aku mendengar sekelebat endusan nafas. Ah, anjing kesayanganku. Hanya ialah satu-satunya yang kupunya setelah suamiku pergi, juga anak-anakku yang sudah bersama keluarga baru mereka.

Dengan segenap tenaga yang kumiliki, aku mendorong diriku kebelakang dan membiarkan kursi goyang kesayanganku ini berayun dan mengguncang diriku pelan. Kunikmati ayunan demi ayunan kursi goyang ini detik demi detiknya. Terasa sangat damai dan tentram.

Ah ya, aku sampai melupakan sobekan kalender yang kugenggam saat ini. Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Namun entah mengapa hari ini aku merasa letih sekali…

Sayup-sayup aku melihat sosok suamiku di depan perkarangan rumah. Entah darimana aku mendapatkan tenaga penuh untuk bangkit dan segera berlari untuk memeluknya penuh kerinduan. Yang aku tahu, kami berdua berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan di depan rumah kami.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *