Perjalanan

“Bagaimana perjalananmu kemari?” Tanyanya sembari menyampirkan tasnya di sebelahku. Tanpa menungguku menjawab, ia langsung menyambar Americano di hadapannya. Menyeruputnya hingga membuat pipinya menggembung. Aku memperhatikannya dan tersenyum kecil. Gadis ini memanglah unik.

“Biasa saja. Merindukanmu, tentu saja.” aku menjawabnya sembari mengaduk Green Tea Latte di depanku, berusaha ikut terlihat sibuk.

Kau lalu memperlihatkan seulas senyum tipis. sangat tipis sehingga sekilas terlihat seperti cengiran. Kau lalu mengalihkan perhatianmu pada telepon pintar yang selalu kau bawa kemanapun kau pergi. Seolah waktumu tidak akan pernah cukup untuk dihabiskan di depan kotak kecil yang bersinar itu.

Kau tahu, aku sangat menikmati momen ini meskipun kau sama sekali tidak menyadarinya. Aku ingin sekali bertemu denganmu meskipun aku harus menunggu bis yang hanya lewat lima belas menit sekali, aku masih merindukanmu meskipun kita hanya bertemu selama beberapa jam. Aku merindukanmu meskipun aku harus mengalami cedera di lututku. Kau tidak tahu kan? Karena memang aku tidak ingin membuatmu khawatir. Itu saja.

Karena aku merindukanmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *