Kepribadian Sejati Si Peretas Handal

Kapan terakhir kali anda menonton film bergenre horror psikologi? Genre ini merpakan salah satu genre favorit saya selain fiksi ilmiah dan aksi. Film-film bergenre horror psikologi selalu dapat menantang saya untuk berfikir di luar nalar dan akal sehat.

Sedikit curhat, saya bukan merupakan penggemar sejati serial televisi. Sehingga, sangat sedikit sekali serial televisi yang dapat menyita perhatian saya. Kali ini, saya baru saja menyelesaikan menonton musim terakhir dari serial televisi yang cukup fenomenal pemenang salah satu penghargaan Emmy award yaitu Mr. Robot.

Oh, ya. Saya juga merupakan seseorang yang begitu menghayati dan menjiwai sebuah film. Dimana saya sering lupa bahwa sebuah film hanyalah “sebuah film”, dimana isi dari film adalah “orang yang berperan”. Namun serial ini mampu membolak-balik emosi saya mengikuti alur yang diinginkan sang sutradara, serta membuat saya menghayati emosi serta ketegangan yang hampir terjadi sepanjang film.

Tulisan ini berisi jalan cerita mengenai serial yang bersangkutan, serta beberapa tanggapan dan pendapat pribadi saya. Oleh karena itu, alangkah lebih baik apabila anda sudah pernah menonton serialnya.

Bercerita tentang seorang lelaki bernama Elliot Alderson yang memiliki keahlian meretas, ia menggunakan keahliannya itu untuk “menumpas kejahatan”. Ia seringkali menilai (lebih tepatnya menghakimi) setiap orang yang ia temui, dikarenakan ia dapat meretas semua sosial media atau apapun teknologi yang dimiliki oleh mereka.

Elliot menginginkan sebuah dunia yang adil dan tentram. Bekerja sebagai pengaman siber di perusahaan teknologi bernama Allsafe, Ia merasa bahwa klien terbesar perusahaan itu yaitu E-corp, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi merupakan perusahaan yang egois dengan cara menyabotase seluruh dunia dengan membuat masyarakat memiliki hutang yang tak terbayarkan kepada mereka. Oleh karena itu, Elliot sering mengasosiasikan perusahaan itu degan nama Evil corp.

Sepanjang episode, kita akan disuguhi pemandangan kota New York yang diam-diam berada dalam pengaruh Evil corp. Hal yang saya sukai adalah sudut pandang sinematografi yang sangat menawan nan suram, serta usaha dari si produser film untuk berusaha menempatkan unsur film dalam kejadian-kejadian nyata. Seperti  berita-berita di televisi yang menayangkan perkembangan mengenai Evil corp, interaksi antara tokoh di film dengan karakter di dunia nyata seperti pemerintah Amerika Serikat, serta elemen-elemen dan properti film yang dikaitkan dengan benda-benda dan tempat yang ada di dunia nyata.

Dibalik kehebatannya meretas, siapa sangka Elliot ternyata juga memiliki masalah psikologis. Ia memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan ruang lingkup sosialnya. Bahkan, Elliot menganggap kita penonton sebagai temannya, tempat ia mencurahkan keluh kesahnya serta pendapatnya terhadap dunia. Bisa dibilang, ia merupakan seorang pribadi yang penyendiri, antisosial, depresi dan kesepian. Untuk mengatasi hal ini, ia rutin mengunjungi psikolog yang bernama Krista, serta memiliki ketergantungan terhadap morfin untuk menenangkan diri ketika depresinya kambuh.

Suatu hari, server Evil corp diretas. Elliot pun dipangil untuk menyelesaikan hal itu. Dalam prosesnya, ia menemukan sebuah nama, fsociety. Dalam perjalanan pulang ke apartemennya, ia berkenalan dengan Mr. Robot. Mr. Robot ingin Elliot untuk bergabung dengan fsociety, sebuah grup peretas yang memiliki markas di sebuah taman bermain yang telah ditinggalkan. Fsociety memiliki tujuan yang sama dengan Elliot, yaitu meruntuhkan perusahaan Evil corp dengan cara memusnahkan hutang yang dimiliki masyarakat terhadap Evil corp.

Misi “menumpas Kejahatan” pun dimulai. Dibantu dengan member Fsociety lainnya yaitu Leslie Romero, Shama “Trenton” Biswas, Sunil “Mobley” Markesh serta seorang gadis tangguh bernama Darlene, Elliot bersama Mr. Robot bahu-membahu meruntuhkan Evil Corp. Siapa sangka, Evil corp hanyalah permulaan dari berbagai macam petualangan yang akan dihadapi Elliot dan kawan-kawan.

Bisa dibilang, Mr. Robot merupakan film dengan kategori dewasa paling favorit menurut saya. Tak hanya secara detil meggambarkan seseorang dengan masalah psikologis, namun Mr. Robot juga mampu dengan sangat apik menggambarkan dunia dengan kasta sosial yang sangat nampak dan seolah tak tersebrangi.

Tak hanya itu, serial ini seolah ingin menggambarkan realita sosial yang terjadi di masyarakat. Seperti sulitnya mencari uang sehingga seseorang rela dijadikan samsak berjalan bagi orang yang lebih kaya darinya, atau (maaf) adegan hubungan badan yang melibatkan darah dan penyiksaan.

Jika anda pernah membaca buku karangan Dr. Elisabeth Kübler-Ross yang berjudul “5 Stage Of Grief” atau “5 tahap kedukaan”, maka anda akan menemukan representasi visualnya di serial ini.

Elemen-elemen inilah yang, barangkali, menghiasi jalannya serial ini. Saya salut terhadap Sam Esmail selaku pembuat film yang dapat meramu adegan demi adegan sehingga tidak membosankan, bahkan dapat menimbulkan decak kagum hingga menciptakan atmosfir ketegangan yang sangat terasa.

Sam Esmail juga seolah dapat menyihir penonton dengan plot twist demi plot twist yang sering di temui sepanjang film. Seolah, Sam ingin kita sebagai penonton mengetahui bahwa Elliot yang merupakan seorang antisosial bukanlah seseorang yang harus ditakuti, melainkan seseorang yang layaknya manusia lainnya, haus akan perhatian dan kasih sayang.

Sang sutradara, menurut saya pribadi, dapat dengan mudah membuat akhir dari film menjadi sangat manis dan tidak mengecewakan. Saya setuju dengan pendapat Kak Robin Ekariski yang juga membahas musim ke empat dari Mr. Robot. Beliau  menyatakan bahwa “Sam Esmail memang dapat melakukan sesuatu yang sungguh ajaib, yaitu dapat mengakhiri sebuah serial dengan ambisius sebesar ini secara tepat. Sangat jarang sebuah serial yang sudah seambisius ini dapat menemukan penutup yang tepat”. Kita ‘dipaksa’ untuk melepas Elliot setelah mengikutinya selama empat musim. Ajaibnya, saya pribadi rela-rela saja untuk melepasnya.

Jujur sebenarnya saya tergoda sekali ingin menautkan tautan menuju artikel tersebut. Namun artikel tersebut sudah berisi bocoran dar sebagian besar musim keempat. Saya tidak ingin merusak pengalaman pribadi anda dalam menonton serial ini.

Serial ini juga menempati tempat tersendiri di hati saya dikarenakan beberapa hal lainnya. Nampaknya, tim produksi sangat beruntung memiliki penggemar sejati yang sangat teliti. Para penggemar serial ini dimanjakan dengan trailer pada musim kedua dan ketiga serialnya yang menyediakan teka-teki yang dapat dipecahkan oleh para penggemar. https://www.vice.com/id_id/article/evjxpe/season-ke-4-serial-mr-robot-semakin-suram-saja

Tak cukup sampai disana, serial Mr. Robot juga memanjakan penggemarnya dengan sebuah pengalaman Realitas Virtual, serta permainan yang dapat diunduh di ponsel pintar. Hal unik lain yang saya temukan adalah, tiap episodenya diselipkan tipe-tipe dokumen dan error yang terdapat dalam internet. Saya yakin anda paham dengan .docx atau .mp4. Atau 404 Not Found? Ya, “jenis-jenis dokumen” ini akan anda temukan di tiap judul episodenya. Akhir kata, Mr. Robot bukanlah serial peretas biasa. Bahkan, adegan retasan yang terdapat di dalam serial, dapat di aplikasikan di dalam kehidupan nyata. Jika saya dapat memberikan nilai, maka saya akan senang hati memberikan poin 9/10. Akhir kata, selamat menikmati serial ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *