Merenungi Kehidupan (Bagian 1)

Terkadang, aku sempat bertanya kepada diri sendiri, mengapa nasib setiap orang berbeda-beda?

Maksudku begini, umpamanya seperti saudara dari orangtuaku. Beliau memiliki banyak saudara, dan meskipun mereka sama-sama lahir dari rahim yang sama, namun dari yang kulihat, masing-masing dari mereka memiliki nasib yang sangat berbeda jauh. Bisa dikatakan, hanya satu dari mereka, yang kulihat, bisa benar-benar “sukses”.

Definisi sukses yang kumaksud begini, ia mampu memperkaya dirinya dan keluarga intinya, serta mampu membiayai keluarga besarnya. Sama sekali tidak bermaksud untuk menjadi pribadi yang materialistis, namun bukankah begitu definisi hidup sejahtera di dunia yang sesungguhnya?

Lalu, seiring bertambahnya usiaku, aku melihat dan menyadari terbentuknya sebuah pola. Salah satu anggota keluargaku yang “sukses” ini, semakin beliau mendapatkan rezeki, maka semakin gencarlah ia untuk berbagi kepada mereka yang tidak ia kenal.

Namun, bukan berarti ketika ia tidak mendapatkan rezeki, maka ia tidak berbagi. Bukan seperti itu. Malah, ketika ia merasa ia sedang terpuruk, maka saat-saat itu adalah saat dimana ia berdoa sangat khusyuk kepada Yang Maha Esa, meminta pertolongan dan petunjuk-Nya untuk menjalani kesulitannya.

Aku sendiri mengerti ada sangat banyak sekali faktor-faktor pendukung lainnya yang tidak kasat mata. Keberuntungan, takdir, nasib, dan lain sebagainya yang dapat membentuk garis hidup seseorang sedemikian rupa sehingga menjadi berbeda satu dengan yang lainnya. Aku sangat paham dan aku mengerti bagaimana konsep keberuntungan bekerja.

Namun aku bukannya tidak mempercayai itu semua. Namun aku juga mengerti bagaimana cara karma bekerja dan betapa pentingnya untuk sesekali bersandar kepada Yang Maha Kuasa ketika engkau lelah.

Karena hidup bukanlah tentang ego semata melainkan tentang bagaimana kau menjalani setiap detiknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *