Mengapa Manusia Modern Lebih Rentan Depresi?

Kesedihan merupakan reaksi yang amat wajar dalam kehidupan. Seringkali kita merasa gagal dalam hidup, bahkan hingga merasa deprsi dan sering tersirat dalam pikiran untuk bunuh diri.

Apa reaksi pertama anda jika ada orang terdekat anda mengatakan bahwa mereka mengalami gejala bahkan mengindap depresi? Jika saya, maka saya akan menyarankan mereka untuk mencari bantuan profesinal. Kenapa? Karena, perilaku depresi ini akan menghambat mereka dalam menjalani rutinitas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terlebih jika pikiran bunuh diri ini dipikirkan terus menerus.

Pada hakikatnya, jika kita beranggapan bahwa bunuh diri sebagai salah satu cara agar “tidak merepotkan orang lain”. Maka hal tersebut salah besar. Mengapa? Karena luka hati dan rasa bersalah akan ditanggung seumur hidup oleh keluarga dan orang-orang terkasih.

Isu depresi sendiri makin banyak terjadi pada manusia-manusia di jaman modern. Pada dasarnya, penyakit mental itu sama dengan penyakit-penyakit lainnya. Dapat dirasakan, memiliki gejala dan akan semakin mengganas jika tidak disembuhkan.

Saya setuju dengan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa penyakit mental menyumbang sekitar 29 persen kerentanan terhadap penyakit fisik. Artinya, bahwa jika kita mengindap depresi bahkan dengan gejala ringan sekalipun, maka kemungkinan kita untuk terkena penyakit fisik kronis jangka panjang, seperti stroke, serangan jantung ataupun diabetes akan lebih tinggi. Saya juga percaya bahwa mindset atau pola pikir akan sangat menentukan kesembuhan kita akan sebuah penyakit.

Jadi, mengapa manusia di jaman modern ini banyak yang mengindap depresi?  Apa keterkatian antara modernitas dengan tingkat depresi seseorang?

Barangkali jawabannya adalah sesederhana pil KB. Mengapa pil KB? Mari kita jabarkan.

Dengan kita menggunakan pil KB, kemungkinan kita untuk memiliki banyak anak akan semakin sedikit. Berbeda dengan jaman dulu dimana istilah “banyak anak banyak rezeki” masih berlaku dan relevan, sekarang barangkali seboyan itu digantikan dengan “dua anak lebih baik”.

Sehingga, kemewahan yang berasal dari diri kita, baik itu kemewahan dalam bentuk materi, waktu maupun kasih sayang, dapat dipusatkan kepada pribadi yang lebih sedikit. Sehingga barangkali anak-anak yang lahir di jaman modern tidak perlu “berjuang” untuk mendapatkan kemewahan tersebut, dikarenakan hal itu sudah terpenuhi dengan sendirinya.

Berbeda dengan manusia yang hidup pada jaman dulu dimana mereka sudah terbiasa untuk menghadapi penolakan. Hal ini membentuk pribadi manusia yag kuat, dikarenakan manusia tersebut tidak terbiasa dimanjakan.

Overprotective dan Over giving parents, atau orangtua yang terlalu memanjakan dan terlalu banyak memberi anak hal-hal yang ia inginkan, tidak baik untuk perkembangan anak. Saya menyukai istilah yang diberikan di dalam video tersebut, dimana kehidupan digambarkan seperti “medan perang”. Alih-alih memberikan seorang anak sebuah pedang dan tameng, orangtua yang overprotektif justru menjauhkan anak dari masalah. Sebagai contoh, ketika si anak ditegur oleh guru, guru tersebut justru yang terkena tuntutan. Hal sederhana seperti ini menggambarkan bahwa orangtua cenderung menjauhkan anak dari masalah tanpa memberikan kesempatan pada anak untuk berkembang dengan cara menyelesaikan masalahnya sendiri.

Ditambah lagi, dengan berkembangnya teknologi, anak semakin dimanjakan dengan gadget yang mudah dan murah didapatkan. Secara tidak langsung, hal ini dapat membuat anak tersebut menjadi apatis dan acuh terhadap lingkungan sekitarnya. Berbeda dengan jaman dulu dimana “freeplay” atau bermain di luar rumah merupakan hal yang biasa. Dimana dalam lingkungan permainan mereka, secara tidak langsung mereka mengasah kecerdasan sosial mereka melalui interaksi bahkan konflik yang terjadi antara teman-teman sebayanya. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempersiapkan diri saat menghadapi kehidupan nyata. Hal inilah yang jarang sekali didapatkan oleh anak-anak di jaman modern ini.

Istilah tantrum barangkali sudah akrab di telinga anda. Kondisi yang terjadi pada anak-anak usia berkembang (1-4 tahun) adalah kondisi yang wajar dimana anak meronta, berteriak, menangis, menjerit menghentakkan kedua kaki dan tangan ke lantai atau tanah sebagai cara untuk mengekspresikan keinginannya maupun meluapkan emosi maupun kekecewaan atau kesedihan mereka1. Tantrum ini barangkali tidak digubris oleh orangtua di jaman dulu, berbeda dengan jaman sekarang dimana anak menjadi pusat dan dimanjakan sehingga orangtua akhirnya luluh dan menuruti keinginan anak.

Hal ini mengingatkan saya akan empat tipe pengasuhan orang tua yang diciptakan oleh psikolog Diana Baumrind, Maccoby dan Martin yang sempat saya pelajari dalam Komunikasi Interpersonal yang akan saya jabarkan dalam poin-poin berikut:

  • Otoriter

Pola asuh ini menggambarkan orangtua yang memberikan anak banyak sekali aturan yang harus dituruti tanpa kompromi. Orangtua tersebut tidak mempertimbangkan bgaimana pendapat dan perasaan anak ketika diberikan peraturan tersebut. Orangtua ini juga menuntut dan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak mereka. Hubungan orangtua dan anak denga model seperti ini menciptakan hubungan yang dingin dan berjarak. Hal ini mengakibatkan anak menjadi seorang pribadi yang tertutup, serta memiliki kepercayaan diri yang rendah. Tak hanya itu, anak dengan latar belakang pola asuh seperti ini cenderung memiliki resiko gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi.

  • Permisif

Pola asuh ini menggambarkan orangtua yang “memanjakan” anak dengan memberikan semua yang mereka inginkan. Orangtua yang mengaplikasikan pola asuh ini berusaha menjadi teman bagi anaknya dengan cara menuruti dan memenuhi keinginan sang anak tanpa memberikan mereka panduan. Orangtua ini jarang sekali memberikan anak panduan mengenai mana yang buruk dan mana yang baik.  Pada akhirnya, anak tersebut cenderung tumbuh dengan menjadi seorang egois, bertindak sesuka hati, sulit diatur dan kurang berempati.

  • Pengabaian

Pola asuh ini menggambarkan orangtua yang samasekali abai dengan kebutuhan sang anak. Orangtua ini tidak atau jarang sekali melakukan komunikasi dari hati ke hati kepada anak. Mereka hanya memastikan anak tersebut memiliki cukup makan, pendidikan dan aman secara fisik. Sementara hal-hal yang bersifat dukungan emosional cengderung tidak ada. Anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini cenderung memiliki pribadi dengan harga diri serta sifat kompetitif yang rendah.

Dari ketiga pola asuh ini, yang memiliki kemungkinan paling tinggi bagi seorang anak untuk tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi di kemudian hari serta memiliki kerentanan yang lebih untuk mengalami gangguan mental, adalah pola asuh dengan poin ketiga. Pola asuh pengabaian merupakan pola asuh yang jauh lebih buruk dibandingan dengan pola asuh otoriter.

Setidaknya pola asuh otoriter memiliki interaksi antara orangtua dan anak meskipun hanya satu arah (hanya kepada orangtua dengan anak) dibandingkan dengan pola asuh pengabaian dimana anak sama sekali tidak mendapatkan interaksi dari orangutan mereka. Seperti yang kita ketahui bersama, orangtua merupakan pondasi pertama bagi anak untuk belajar. Pada usia belia, anak sangat bergantung pada orangtua dan seringkali mencontoh perilaku mereka2.

Akhir kata, penderitaan bukanlah sebuah kemalangan. Kehidupan pada dasarnya adalah menderita. Kehidupan adalah penderitaan. Esensi dari hidup adalah penderitaan. Semua pemikir-pemikir besar menyatakan bahwa penderitaan adalah hal yang esensial dalam kehidupan manusia.

Penderitaan sudah menjadi satu dalam kehidupan manusia. Buddha Sidharta Gautama sendiri mengatakan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri.

Ada satu pengalaman unik saya ketika melakukan donor darah yang terkait dengan hal ini. Ketika saya merasakan sakit akibat tertusuk jarum suntik setelah melakukan donor darah, petugas donor mengatakan pada saya, jika saya masih bisa merasakan sakit, maka itu tandanya saya masih hidup dan sehat.

We know that we are alive when we feel the pain. Alih-alih menghilangkan penderitaan, barangkali anda punya cara untuk menderita “lebih baik”?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *