Love, Rosie: Ketika Cinta Sudah Berlabuh, Manakah yang Akan Kau Pilih?

Aku sering menyebutkan bahwa aku adalah seorang yang, jika merujuk pada istilah bahasa Inggris, Hopeless Romantic. Aku sama sekali tidak ingin mengaitkan hal ini pada zodiak-ku namun begitulah adanya.

Bukti bahwa seorang Cancer adalah seorang yang Bucin. Diakses pada 5 Februari 2021

Menurut dictionary.com, seorang Hopeless Romantic, atau biasa orang Indonesia menyebutnya Bucin, adalah mereka yang melihat “cinta” di sudut pandang yang ideal. Menurut mereka, sekeras apapun badai menerpa, apabila sepasang insan sudah ditakdirkan untuk bersama, maka tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Biasanya orang-orang yang memiliki paham seperti ini sangat menikmati serial putri Disney.

Maka dari itu, jangan heran jika aku sering mengaitkan hal-hal yang bahkan tidak ada kaitannya dengan romantisme, menjadi satu cerpen sendiri. Barangkali itulah mengapa aku sangat menikmati menjadi seorang penulis.

Oleh karena itu, ketika aku dihadapkan dengan film yang memang bergenre romantis, sebuah genre film yang, maaf, tidak perlu banyak berfikir, maka aku akan betah duduk berjam-jam, larut dalam emosi dan tidak akan berpaling bahkan hanya untuk sekedar mengecek ponsel untuk melihat sudah pukul berapa.

Diadaptasi dari Novel Berjudul Where Rainbows End karya Cecelia Ahern, “Love, Rosie” yang bercerita tentang Rosie Dunne and Alex Stewart. Sepasang sahabat kental dari Dublin, yang sudah mengenal sejak mereka kecil. Semua menjadi kacau ketika Alex diterima untuk berkuliah di Harvard (di novel di kisahkan bahwa Alex dan keluarganya pindah ke Boston). Baik Rosie dan Alex menyukai satu sama lain, namun dengan jelinya mereka menyembunyikan itu semua atas nama sahabat, dan malah mengencani orang lain. Rosie dengan Greg, dan Alex dengan Beth. Masalah dimulai ketika akhirnya Rosie hamil anak Greg.

Dibawakan dengan gaya flashback yang mampu mengombang-ambing emosiku, membuatku kagum akan akting dari Lily Collins, anak perempuan dari musisi favoritku Phil Collins, serta Sam Claflin yang pernah beradu akting bersama Jennifer Lawrence di film Hunger Games. Film yang berdurasi selama 1 jam 40 menit ini mampu membuat punggungku yang seharusnya sakit karena bersentuhan langsung dengan tembok dan minim gerakan, menjadi tidak terasa. Digantikan dengan rasa gemas yang kurasakan sepanjang film.

Satu-satunya hal yang menjadi kekurangan di film ini, yang ironisnya juga menjadi tamparan keras bagi para “Hopeless Romantic” sepertiku, adalah ketika mereka kurang menjelaskan secara realistis kerja keras si tokoh utama. Bagaimana seorang Rosie yang tadinya hanya seorang Cleaning Service di sebuah hotel dapat membeli sebuah hotel mewah yang memiliki pemandangan laut. Namun, seperti biasa, “realistis” bukanlah kata yang cocok, setidaknya untukku. Kebahagiaanku sesederhana ketika melihat mereka berdua akhirnya bersatu dan terlepas dari hubungan yang tidak sehat.

Akhir kata, jika kalian adalah seorang yang juga bucin, atau istilah kerennya “Hopeless Romantic”, serta tidak ingin menonton film yang terlalu berat, maka aku sangat merekomendasikan film ini.

8/10

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *