Distimia

Saat ini sambil mengunyah kebab ukuran ekstra besar seharga enam belas ribu yang kubeli di dekat tempatku setengah jam yang lalu, aku memikirkan tentang apa yang akan aku tulis.

Seketika itu pula lah aku mengingat obrolanku bersama seorang psikolog beberapa bulan yang lalu mengenai distimia.

Pada awalnya, selama ini aku menyangka bahwa aku menderita depresi. Namun dari beberapa referensi mengenai depresi yang aku baca baik di buku maupun secara daring, aku merasa bahwa sebutan “depresi” sepertinya terlalu berat untukku.

Dari yang sering ku baca di internet, penderita depresi cenderung tidak bisa menjalani hidup secara normal. Menutup diri di lingkungan masyarakat, dan tidak dapat bersosialisasi. Namum aku tidak merasa demikian.

Aku merasa aku dapat bersosialisasi. Setidaknya di lingkungan keluarga, pekerjaan maupun komunitas yang saya miliki.

Sampai suatu ketika, ketika aku diberikan kesempatan untuk berkonsultasi langsung kepada seorang psikolog, setelah menjalani tes kepribadian yang ternyata memakan waktu lebih lama dari yang aku duga, psikolog itu memberitahuku bahwa kemungkinan aku mengalami distimia. Istilah yang baru saat itu aku dengar.

Beliau menjelaskan apa itu distimia. Distimia sendiri adalah depresi yang bersifat kronis jangka panjang. Dimana penderita distimia dapat menjalani hidup sehari-hari seperti biasa, namun tetap dihantui pikiran-pikiran negatif yang tertuju baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Orang yang mengalami gangguan depresi persisten atau distimia sulit untuk merasa senang, bahkan pada saat-saat bahagia sekalipun.

Mengapa?

Aku sendiri merasa aku tidak bisa sepenuhnya bahagia karena aku memikirkan bahwa sebuah “kebahagiaan”, seperti layaknya hal yang lain, tidak bersifat abadi dan akan tergantikan oleh kesedihan. Dan sebagai manusia kita harus bersiap akan hal apapun termasuk kesedihan.

Sederhananya begini, ketika aku selesai berbicara kepada sekelompok orang, dan ketika aku keluar dari kelompok itu, aku akan memikirkan secara berlebihan dan khawatir. Mengenai, apakah mereka akan membicarakan diriku? Jika ya, pembicaraan dengan kesan seperti apa?

Meskipun distimia biasanya tidak separah depresi berat, tetapi perasaan depresi yang dialami oleh pengidap distimia dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan dapat secara signifikan menyebabkan masalah dalam lingkup pergaulan dan sosial mereka.

Penyebab distimia sendiri bermacam-macam dan tidak melulu berkaitan dengan pengalaman hidup. Distimia bisa disebabkan oleh perbedaan biologis, kimia otak, ataupun sifat bawaan. Peristiwa kehidupan hanyalah salah satu dari keempat penyebab tersebut.

Sebagai seorang manusia yang masih ingin berperan dan memiliki fungsi di tatanan sosial masyarakat, aku ingin segera keluar dari kondisi ini. Karena aku sendiri sadar, bahwa kondisi ini tidak baik terutama bagi diriku sendiri baik secara fisik dan mental. Karena percaya atau tidak, kondisi mental seseorang mempengaruhi sebagian besar kondisi fisiknya.

Gejala distimia biasanya datang dan pergi selama beberapa tahun yang intensitasnya bisa berubah seiring waktu. Sehingga, bukan berarti penderita distimia tidak bisa merasakan yang namanya senang, bahagia ataupun perasaan positif lainnya. Mereka hanya tidak bisa benar-benar menikmatinya. Itu saja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *